![]() |
Ini sedikit kalimat yang dapat di rangkai menjadi beberapa bait tulisan, tak banyak yang dapat diulas dari beberapa perjalanan ini. Selain emosi yang belum mampu diarahkan, juga terkendala waktu yang tidak punya tempat khusus untuk menjamu cerita yang datang dari masalalu.
Namun, hal tersebut bukanlah alasan untuk tidak bisa menggelar diksi dari sebuah percakapan singkat dengan kalimat yang tertata, beriringan dengan harapan ketika dibaca ulang mampu memberikan kekuatan baru. Mungkin tidak bisa dijadikan mantra untuk mencetak mimpi, setidaknya untuk beberapa saat sebelum membias seperti biasa.
Pada dasarnya menulis bukan sekedar bermain kata, Menulis bisa menjadi healing bagi mereka yang tidak mampu bersuara, menjadi alat rilexasi untuk orang-orang yang menggemarinya, menghadirkan ketenangan bagi mereka yang membenci kehampaan, juga dapat menjadi sarana curhat, berbagi rasa, membentuk garis senyum di bibir sendiri, tidak jauh beda dengan insan yang sedang jatuh cinta.
Namun sebaliknya, bisa menjadi bencana untuk orang-orang yang tidak pernah mencoba, untuk mereka yang bersahabat dengan ketakutan dan tak pernah memulai untuk menulis. memilih diksi dan menyusun kerangka kata yang akan di rangkai menjadi sebuah hal menarik dan menantang untuk digarap. Bagi beberapa orang hal ini dianggap momok yang menakutkan, membuat otak tak berjalan tenang (stress) dan lain sebagainya.
Memang tak mudah bagi mereka yang tidak terbiasa, bagi mereka yang baru memulai, terlebih ketika keinginan menulis yang ditenggelamkan dan motivasi yang tak dipupuk, akan membuat lebih sulit dari yang seharusnya.
Jika boleh merefleksi pengalaman awal menulis, tentu saya tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. 2013 silam saya menulis buku Deary, buku yang saya beli di MYDIN salah satu supermarket yang ada di Bandar Nilai, Negeri Sembilan Malaysia ketika menjadi perantau dulu.
Saya meluangkan semua keluh, segala bentuk perasaan yang hadir, segala kesakitan, dan cinta yang saya genggam kala itu tertuang dalam buku deary seorang lelaki, mungkin terkesan lucu, anak laki-laki yang harusnya mengandalkan senjata untuk melerai emosi, tapi saya memilih menyematkan pulpen dijemari dan sebuah buku deary. Namun, itulah awal mula motivasi dan kecintaan menulis itu tumbuh dan berkembang.
Empat bulan berlalu, buku deary rutin saya hiasi tulisan sampai pada lembaran akhir, di lembaran akhir saya menulis tiga kalimat yang sampai hari ini masih dan akan selalu melekat dalam ingatan dan sangat sulit untuk dilupakan. Kalimat itu mengandung kekuatan yaitu “Aku akan kembali , Aku ingin sekolah dan terahir Aku akan merubah keadaan dan diri sendiri.
Iya kalimat itu ternyata bisa menjadi power besar untuk pijakan dalam memulai suatu perubahan, saya menyadari dari kalimat yang saya sematkan delapan tahun yang lalu, hari ini semuanya bisa saya tuntaskan meskipun dengan banyak kekurangan.
Ketiganya sudah terjawab, 2014 yang lalu tepatnya pada 11 November saya pulang ke tanah kelahiran tepatnya di Lombok setelah dua tahun lamanya berjibaku dengan buah sawit, arco, parang , ganco dan teman-temannya.
28 Desember 2019, saya tuntaskan proses belajar, ditandakan dengan tersematnya toga dan penambahan gelar dibelakang nama terahir, sudah mampu mengubah mindset dan semangat perantau yang tersemat selama ini menjadi semangat anak muda yang selalu menenteng kalimat perubahan dalam setiap langkahnya.
Memang tidak mudah dan tidak dalam jangka waktu yang sebentar, namun bukan berarti tidak bisa bukan?, ini membuktian kualitas kalimat yang mengatakan “Seribu langkah dimulai dari langkah pertama”. Memang benar, karna jika waktu itu saya tidak menulis di buku deary mungkin saja saya tidak punya motivasi seperti saat ini dan sampai nanti, tentu menulis di buku deary menurut sebagian orang adalah hal yang lucu ternyata bisa menjadi pijakan perubahan yang berkelanjutan dan bisa memberikan dampak besar bukan hanya untuk saya pribadi, namun orang-orang yang ada di luar sana.
Oh iya, perjalanan ini ternyata tidak sia-sia, karena hari ini saya sudah mulai menyusun kerangka penulisan buku, saya banyak berdiskusi dengan teman-teman yang berkompeten dalam bidang menulis buku untuk membantu memuluskan rencana ini, dan ternyata mendapat respon yang baik dari mereka semua.
Hari ini juga tepat dengan tiga tahunnya lembaga yang saya pimpin, Lembaga Sosial Desa Anjani , yang hari ini juga berhasil melahirkan sebuah lembaga media komunitas, yang bertujuan untuk mengembangkan jurnalisme warga dan menjadi sentral informasi desa. Media komunitas ini telah memiliki Akte Notaris sebagai legalitas resmi dari pemerintah yang digawangi oleh pemuda dengan spirit kepemudaan yang membara.
Tentu langkah ini tidak akan berhenti sampai disini, akan ada banyak hal yang harus dihadapi dan tengah menanti di depan sana, selama kita terus melangkah semuanya akan kita temui.
Saran saya “ Menulislah dimanapun , apapun, dengan sarana apapun itu, tak masalah di bilang dikomentari dengan berbagai cemoohan lebay, norak, kampungan, pandanglah itu sebagai sebuah referensi dalam mengubah diri lebih baik dari yang lalu dan yakinlah suatu saat nanti, hal itu akan berubah menjadi riuh suara tepuk tangan, karna memang tidak akan ada yang bisa menghentikan pengharapan dan cita-cita kita kecuali diri kita sendiri”.
Nendi Wahyu Imansah, 1 Maret 2021